TIPS MENGHEMAT PENGGUNAAN AIR

Selasa, 07 September 2013

Administrator

Umum

Dibaca: 1914 kali

Sebagian besar orang di wilayah pinggiran, air masih merupakan barang murah dan cara mendapatkannya pun mudah. Mereka tinggal menggali sumur atau mengebor tanah. Air pun langsung bisa didapat. Inilah yang membuat mereka kurang begitu peduli terhadap penghematan air. Tapi di perkotaan, sebagian masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka tidak bisa mengandalkan air yang ada di dalam tanah. Sebab, selain kualitasnya sudah tidak layak, sumber mata airnya juga langka. Mereka terpaksa harus mendapatkannya dengan cara membeli, baik dari PDAM maupun melalui pedagang keliling. Per hari, untuk kebutuhan air saja, mereka bisa menghabiskan rata-rata Rp 10.000-Rp 20.000. Ini untuk pemakaian normal. Jika mereka menggunakannya secara berlebih, seperti untuk menyiram tanaman dan mencuci kendaraan, pengeluaran mereka tentu saja akan lebih membengkak lagi. Inilah yang membuat mereka lebih peduli terhadap penghematan penggunaan air.

Sebenarnya, terlepas dari apakah air itu didapat secara gratis dari dalam tanah ataukah membeli, kita harus tetap bijaksana dalam pemakaiannya. Seperti kita ketahui, jika air yang didapat dengan cara menggali sumur ataupun memompa dari dalam tanah, pasokannya semakin lama akan semakin menipis. Belum lagi dampak kerusakan yang dihasilkannya. Jika air yang ada di dalam tanah disedot secara terus-menerus, lapisan tanah di atasnya akan ambles. Ini bisa membuat permukaan tanah menjadi turun. Hal ini bisa berakibat fatal jika tanah di atasnya adalah permukiman warga.

Untuk mengantisipasi hal itu, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Lingkungan Hidup melarang penggunaan air tanah yang tidak sesuai dengan batas yang telah diterapkan. Jika ada yang melanggar, dendanya mencapai Rp 15 miliar.

Agar kita berperilaku hemat air, berikut ini langkah-langkah yang dapat kita lakukan seperti yang dikutip situs Kementerian Lingkungan Hidup.

 

1. Di dalam penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga, kita dapat melakukan hal-hal berikut ini.    

• Mengurangi pencucian secara berulang (pembilasan).               

• Pemanfaatan air secara bertahap (prioritas).  

- Air bekas cucian sayur dipakai untuk mencuci perabot dapur yang kotor.           

- Air bekas mandi untuk pembilas/penggelontor WC.     

- Air cucian dapur untuk menyiram tanaman.     

• Penggunaan ulang air (yang telah dianggap limbah dan masih layak) seperti untuk sanitasi.      

• Gunakan air secukupnya dan jangan berlebihan.          

• Isi bak mandi secara penuh setiap habis digunakan.    

• Isi bak penampungan air setiap malam.             

• Matikan keran sebelum meninggalkan kamar mandi. 

• Bagi pemilik kendaraan bermotor:       

- Tampung air cucian pakaian untuk mencuci kendaraan.              

- Jangan menggunakan air bersih melalui keran untuk mencuci kendaraan.         

- Usahakan mencuci kendaraan hanya dengan dua ember air.   

• Usahakan setiap rumah tangga mempunyai sumur resapan.   

• Rawat dengan baik peralatan saluran air, keran, dan penampungan air untuk menghindari kebocoran.               

2. Untuk pekarangan di rumah kita, sebaiknya kita melakukan hal-hal berikut ini.              

• Pilih tanaman yang tidak banyak membutuhkan air seperti palawija.   

• Manfaatkan air yang tidak layak dikonsumsi tapi tidak mengandung zat kimia untuk menyiram tanaman.          

3. Kita juga bisa membuat penampungan air hujan.        

• Letakkan bak-bak di tempat jatuhnya air ketika hujan tiba untuk menambah persediaan air bersih.     

4. Melindungi sumber-sumber air dari pencemaran juga merupakan hal yang penting.  

• Menghindari kegiatan seperti pencucian dan panggembalaan ternak di lokasi sumber-sumber air agar air tidak tercemar.

5. Untuk industri atau pelaku bisnis dan perkantoran:    

• Gunakan teknologi reuse (penggunaan kembali) dan recycle (daur ulang) air bekas proses produksi.  

• Manfaatkan lagi air yang telah dianggap limbah tapi masih layak untuk sanitasi.              

• Penggunaan keran, shower, dll.                           

- Gunakan peralatan seperti keran, shower, dan penggelontor peturasan yang otomatis dan akan mati apabila tidak digunakan.

- Buka keran separuh dari lubang air sehingga air yang keluar tidak berlebihan.  

- Matikan keran, shower, dll. secepatnya setelah digunakan.     

- Tidak diperkenankan membuka keran, shower, dll. terlalu lama.            

- Ganti keran, shower, dll. yang bocor atau tidak bekerja dengan baik secepatnya.          

• Penggunaan air cucian:                             

- Setiap kantor harus memiliki bak penampung air bekas cucian.               

- Dilarang mencuci mobil di kantor.                         

- Air bekas cucian usahakan digunakan ulang untuk pendingin mesin AC.              

- Gunakan air bekas cucian untuk penyiraman taman.    

• Penggunaan air untuk proses industri:               

- Mengurangi penggunaan air tanah untuk proses produksi.       

- Air bekas proses industri harus dilakukan daur ulang.  

- Usahakan tidak melakukan pembuangan air bekas proses industri.       

- Apabila terpaksa harus melakukan pembuangan air sisa proses produksi, maksimal diperkenankan hanya 10 persen dari total penggunaan.

• Penggunaan air tanah:                              

- Tidak diperkenankan melakukan pencurian air tanah   

- Apabila menggunakan air tanah dengan sumur bor, harus dilengkapi alat ukur pengambilan.    

• Perbanyak kolam penampungan untuk memenuhi kebutuhan sendiri.              

• Setiap perusahaan wajib membuat papan informasi mengenai jumlah air yang ada dan jumlah air yang dibuang ke luar perusahaan.

6. Selain masyarakat, pemerintah juga harus mendukung program penghematan air dengan cara:           

• Meningkatkan pelaksanaan pemantauan dan pengawasan air buangan industri dan pengambilan air bawah tanah.      

• Mendistribusikan air untuk daerah-daerah yang kesulitan air bersih.   

Sumber: Situs Kementerian Lingkungan Hidup (menlh.go.id)      

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas